Ayo Rawat Bumi Kita !!!

Halo kawan, untuk postingan kali ini saya akan membahas tentang pemanasan global, yang kalo bukan kita siapa lagi yang harus concern terhadap hal ini, tentunya dikutip dari beberapa sumber, silahkan membaca :

Cuaca…Cuaca.. Dan cuaca, Hingga sangat ini di awal tahun 2010, perubahan cuaca yang sangat signifikan dapat kita rasakan bersama sama, dihari yang sama kita bisa merasakan bagaimana teriknya matahari yang menyengat kulit lalu beberapa lama kemudian cuaca menjadi mendung dengan semilir angin yang begitu kencang, lalu bunyi petir yang menggelegar lalu turunlah hujan yang begitu derah turun dari langit membasahi bumi. Perubahan iklim yang tentunya sangat mengganggu aktivitas kita sehari hari bahkan dapat mengganggu kesehatan kita.

Perubahan iklim, yang saat sekarang merupakan issue yang sangat berkembang dibelahan dunia manapun. Konfrensi tingkat tinggi tentang perubahan iklim dilaksanakan, bahkan mencetuskan perjanjian untuk menyiasati perubahan iklim. Tentunya masalah ini merupakan masalah main-main. Ini sangatlah serius, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan juga nasip anak cucu kita dikemudian hari kelak. Dari perubahan iklim bagian yang paling menarik tentunya adalah “pemanasan global” , bumi semakin hari semakin panas oleh sinar matahari. Jika pemanasan global terus dibiarkan banyak daratan daratan yang akan tenggelam, apalagi di negara kepulauan seperti di negeri kita ini. Jika pola berpikir kita “ Masa itu akan datang nanti, masih begitu lama puluhan atau bahkan ratusan tahun yang akan datang” tetapi tanpa kita sadari dampak dari pemanasan global itu sendiri sudah kita rasakan, seperti yang sudah dijelaskan awal tulisan ini.

Menurut data dari Bakornas PB (Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana Nasional) , kejadian bencana terkait iklim sejak tahun 1950-1960an telah meningkat sekitar empat kali lipat. Contohnya di tahun 2003-2005 telah terjadi 1.429 bencana di tanah air, 53% diantaranya seperti banjir, longsor, kekeringan dan angin topan. Pada 2020, diperkirakan 75 hingga 250juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, sedangkan penduduk kota-kota besar di Asia akan berisiko terlanda banjir. DiEropa sebagian spesies akan punah karena perubahan iklim, lalu di Amerika Uatara gelombang hawa panas terjadi semakin lama dan menyengat hingga memicu perebutan sumber air, kondisi cuaca ekstrem akan menjadi peristiwa rutin.

Di Indonesia, Negara kita tercinta ini yang merupakan Negara kepulauan, kenaikan muka air laut telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir, mengubah arus laut, memperluas kerusakan hutan bakau, meluas instrusi air laut kedaratan, dan berkurang luas daratan atau hilangnya pulau pulau kecil. Daerah yang paling terkena dampak pemanasan global adalah daerah pesisir. Luas hutan bakau terus mengakami penurunan dari 5.209.543 ha (pada 1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1983). Jika ini terus terjadi makan abrasi pantai akan semakin terus terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran ke air laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya ikan pun terancam. Wilayah kedaulatan Negara kita pun otomatis akan menyempit akibat mendurnya garis pantai. Tetapi untuk masalah dihutan bakau ini, sudah banyak inisiatif dari para aktifis-aktifis lingkungan hidup untuk membuat acara penanaman hutan bakau diberbagai daerah, tentunya kita semua berharap acara acara tersebut semakin sering diadakan, tidak hanya mengurangi hutan bakau untuk dijadikan perumahan perumahan mewah yang dampaknya dapat menyengsarakan banyak orang. Lalu jika tidak ada upaya pencegahan adalah bahwa Negara kita akan kehilangan sekitar 2.200 pulau karena permukaan laut akan naik sampai 90cm. Dengan asumsi kemunduran garis pantai sejauh 25meter, pada akhir abad ke-21 lahan pesisir yang hilang mencapai 202.500 hektar.

Salah satu penyebab dari pemanasan global ini adalah proses “Efek Rumah Kaca”, bukan efek rumah kaca band yang sedang digandrungi anak muda Jakarta sekarang, yang saya juga sangat mengidolakan mereka tapi efek rumah kaca disini berarti istilah untuk menggambarkan tentang panas yang terperangkap didalam atmosfer bumi. Penyebabnya adalah peningkatan volume “gas rumah kaca” yang menyelubung didalam atmosfer, seperti kaca yang menahan panas sehingga tak bisa keluar. Beberapa contoh gas yang dapat menyebabkan proses efek rumah kaca adalah CO2, CH4, N2O, SF6, dan CFC. Gas rumah kaca dapat ditembus cahaya matahari, tetapi menahan panas matahari sehingga takbisa lepas kembali keluar angkasa.

Data KLH ( Kementrian Lingkungan Hidup) menyebutkan selama kurun waktu lima tahun (2003-2008) total emisi gas karbondioksida (CO2) di Indonesia setara dengan 638,975 gigaton CO2. Sumber emisi Indonesia tersebut terdiri dari konversi hutan dan lahan sebesar 36%, emisi limbah 16%, emisi pertanian 8% dan emisi dari proses Indutri 4%. Data Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menyatakan bahwa kenaikan suhu bumi periode 1990-2005 adalah antara 0,15-0,13 derajat celcius. Jika kondisi ini dibiarkan pada periode 2050-2070 suhu bumi akan naik sebanyak 4,2 derajat celcius. Padahal, jika suhu bumi naik 2 derajat celcius saja maka sebagian kehidupan dibumi akan musnah.

Ayo mari kita ambil peranan untuk menyelamatkan bumi kita ini, dari hal yang terkecil dari kegiatan kita sehari hari. Mari kita bersama sama menggeser zona nyaman kita dan sedikit menggunakan kretivitas yang kita punya. Jangan menggunakan AC pada saat kita tidur,pakailah secukupnya dalam sehari. Lalu kebiasaan dikota besar di Indonesia yaitu proses macet, bertumpuknya kendaraan diruas ruas jalan yang menyebabkan menumpuknya gas polutan diudara. Kehidupan hedonis masyarakat kota yang pergi beraktifitas dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti setiap mobil diisi oleh satu orang, tentunya jika para manusai yang mempunyai mobil berpikir seperti itu akan selalu menumpuk mobil-mobil dijalan sehingga terjadi macet. Biasakanlah menggunakan fasilitas-fasilitas umum seperti Bus Way, Bus Kota ataupun kereta api listrik (KRL) ataupun kendaraan pribadi yang tidak mencemari lingkungan & menyehatkan jasmani yaitu sepeda, banyak sudah orang yang melakukan program bike to work (B2W) dikota kota besar, bersepeda disetiap kita beraktivitas kemanapun selain menyehatkan tentunya tidak akan berpolusi.

Kita sebagai individu yang merupakan mahluk sosial harus lah menjaga lingkungan, saya juga membiasakan sedkit menggeser zona nyaman tersebut seperti tidak menggunakan cat semprot atau aerosol untuk menggambar ditembok karena itu merupakan hobi saya, lalu bisa diganti oleh cat lainnya. Mari dimulai dari kita, dari yang terkecil, dari hobi kita, dan dari manapun. Semoga anak cucu kita dapat merasakan bumi ini seperti apa yang kita rasakan.

Selanjutnya saya akan mempostingkan hal hal lain untuk meredam pemanasan global yang tentunya dikutip dari berbagai sumber, untuk postingan kali ini referensi dari buku ”hidup hirau hijau:langkah menuju hidup ramah lingkungan” Jakarta;KPG,2009.

Ayo kita lebih memperhatikan lagi bumi kita ini, kalau bukan kita siapa lagi, keep posting !!

Label:
1 Response
  1. ninneta Says:

    mengerikan ya membayangkan global warming itu..


Posting Komentar

  • Rezqi Fajri Ramadhan Thamyiz

    Create Your Badge

    Blog Label

    Followers

    LINK